NEW!New top class exclusive digital courses Read More

Manokwari Selatan

Cegah Alih Fungsi Lahan Pertanian, Pemkab Maybrat Gandeng Unipa Siapkan Peta LP2B

2 Mins read

PENTUL,MAYBRAT-Mencegah terjadi alih fungsi lahan pertanian ke depan di kabupaten Maybrat, Pemerintah Kabupaten Maybrat melalui dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan gandeng Akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Papua (UNIPA) Manokwari.

Untuk menyiapkan peta awal terkait lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) di Maybrat.

Kepala dinas Pertanian melalui sekretaris Dinas, Korneles Naa menyampaikan terima kasih kepada akademisi UNIPA atas kajiannya sehingga menyediakan data tersebut dalam bentuk peta LP2B.

Menurutnya, data tersebut penting karena sebagai satu pra syarat untuk diajukan ke kementerian pertanian agar kedepan nantinya bisa diperoleh dana alokasi khusus fisik oleh pihak kementerian.

Kone pun mengaku, Maybrat hingga sekarang sudah berusia sepuluh tahun namun belum juga memiliki dokumen LP2B, padahal, kata Dia, hal itu sudah pernah diperdakan melalui perda nomor 8 tahun 2019.

Karena itu, kebutuhan data mengenai lahan pertanian pangan berkelanjutan perlu ada sebab merupakan tuntutan dan rujukan dari undang-undang nomor 41 tahun 2009.

“Karena Dokumen ini sudah ada, kedepan kami tinggal menyesuaikan masukan angkanya di perda. Hal-hal yang kurang nanti kami akan pelajari dan lihat rekomendasi tim dari UNIPA untuk kami merencanakan lagi di tahun 2021 supaya ada kajian lebih lanjut untuk secara spesifik cadangan lahan aktual dan potensial di kabupaten Maybrat,” ungkap Kone saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (18/12).

Kone mengatakan, data yang telah tersedia itu juga akan dikonsolidasikan ke berbagai pihak terkait di lingkup Pemda Maybrat, kemudian akan ditetapkan secara permanen untuk berbagai aktivitas di sektor pertanian di kabupaten Maybrat demi kepentingan menciptakan kemandirian pangan secara berkelanjutan di tengah-tengah masyarakat lokal Papua.

Selain itu juga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) setempat,”Supaya kita sama-sama punya satu kesepahaman bahwa kepentingan pertanian ini merupakan sektor unggulan yang terpenting di kabupaten Maybrat yang harus di dorong karena masyarakat kita ini sudah akses terhadap lahan pertani sejak turun temurun. Jangan sampai dengan adanya dana desa, respek, sehingga masyarakat dilenakan dengan bantuan-bantuan dan animo ke lahan ini semakin berkurang,” pungkasnya.

Ketua tim peneliti kajian pemetaan lahan pertanian pangan berkelanjutan, UNIPA Manokwari, Herman Tubur mengatakan, dalam melaksanakan kajian pemetaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) tidak lepas dari RTRW Kabupaten Maybrat.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) adalah instrumen penting dalam perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ruang sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, demikian halnya terkait pemanfaatan ruang sebagai kawasan pertanian.

Diketahui, berdasarkan RTRW Kabupaten Maybrat 2010-2030, wilaha Maybrat dibagi menjadi 5 satuan wilayah pengembangan (SWP), yaitu : 1). SWP Ayamaru; 2). SWP Aifat Utara dengan pusat pengembangan di Kumurkek; 3). SWP Aitinyo dengan pusat di Aitinyo;

4). Pusat Perkotaan, mencakup koridor dari Jitmau- Fategomi – Susumuk – Kisor dan sekitarnya ke arah selatan, dengan pusat di Kisor; dan 5), SWP Aifat Timur dengan pusat di Aisa.

Rencana wilayah pengembangan pertanian, lingkungan, dan agropolitan diarahkan pada bagian selatan yaitu Distrik Aifat, Aifat Timur dan Aitinyo. Pada saat ini pemanfaatan dan penggunaan lahan baru dilakukan pada kawasan hutan primer dan sekunder. Kajian strategis lahan pertanian pangan berkelanjutan di Kabupaten Maybrat telah dilakukan dan berdasarkan hasil kajian diketahui bahwa lahan potensial untuk pertanian pangan berkelanjutan yang dapat direncanakan adalah seluas 472.023,15 ha, sementara lahan actual mencapai 465.052,42 ha.

Dan jika dikelompokan berdasarkan karakteristik lahan basah dan lahan kering, maka luas lahan basah di kabupaten Maybrat mencapai 338,972.04 ha, sedangkan lahan kering mencapai 133,051.11 ha.

Hasil kajian terkait lahan potensial dan actual perlu didetailkan lebih lanjut sesuai Sesuai dengan Undang-undang Nomor 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan Permentan No 41 Th 2009 tentang Kriteria Teknis Kawasan Peruntukan Pertanian.

Kajian awal dilakukan pada 3 distrik sampel, yaitu Aifat, Ayamatu Utara dan Aitinyo. Hasil kajian menunjukkan berdasarkan aspek dukungan infrastruktur, kondisi fisik lahan, kelerengan (slope) dan areal terbangun maka luas lahan yang dapat direncanakan untuk Lahan pertanian pangan berkelanjuan (LP2B) di distrik Aifat mencapai 3.107 ha atau, Distrik Aitinyo mencapai 2.384 ha dan Ayamau Utara mencapai 1.601 ha.

Selain Luasan lahan diatas, terdapat juga potensi lahan sebagai lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan (LCP2B) . Luas lahan cadangan di distrik Aifat mencapai 3.241 ha, Aitinyo 2.384 ha, dan mencapai Ayamaru Utara 1.175l. (Charles Fatie)

Related posts
Manokwari SelatanPendidikan

Pemkab Mansel mendukung Pembentukan CDP untuk Urai Persoalan Pendidikan SMA

1 Mins read
PENTUL,MANSEL-Rencana Dinas Pendidikan Papua Barat akan bentuk empat Cabang Dinas Pendidikan (CDP) mendapat Dukungan dari Pemda Manokwari Selatan (Mansel). Diketahui, realisaikan kebijakan…
Manokwari SelatanPendidikan

Upaya Disdik Mansel Menghadap Tuntutan Pendidikan Berbasis Teknologi Ditengah Keterbatasan

1 Mins read
PENTUL,MANSEL-Pendidikan berbasis teknologi dirasa belum maksimal di Manokwari Selatan (Mansel). Padahal, Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbudristek) tengah mengupayakan perbaikan dalam…
Manokwari Selatan

Pelaksanaan UAS Tingkat SD Kabupaten Manokwari Selatan, Ketat Prokes

1 Mins read
PENTUL,MANSEL
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *