NEW!New top class exclusive digital courses Read More

Manokwari Selatan

Bertepatan Dengan HARDIKNAS, Enam Guru di Mansel Terima Penghargaan

2 Mins read

PENTUL,MANSEL- Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2 Mei 2021, setidaknya ada 6 guru sekolah dasar (SD) menerima penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan melalui Dinas Pendidikan.

Penyerahan penghargaan langsung diberikan oleh Wakil Bupati Manokwari Selatan, Wempi W. Rengkung, usai menjadi inspektur upacara peringatan HARDIKNAS di halaman SDI 74 Siwi di distrik Momiwaren, Senin (3/5).

Keenam guru tersebut, Paskalis Baronama, A.Ma.Pd pengajar SDI 119 Distrik Tahota,
Anos Ainusi, S.PAK, pengajar disalah satu sekolah dasar di distrik Nenei.

Berikutnya, Matianus Dowansiba, S.Pd asal dari salah satu sekolah dasar dari Distrik Momiwaren, Yos Tara Mangende, S.Pd, adalah guru dari salah satu sekolah Dasar di Oransbari, Yarius Indwek, S.Pd – merupakna Kepala SDI 51 Sabri distrik Ransiki dan Markus Sapan Tandelingkang, S.Pd dari Dataran Isim.

Kadis Pendidikan, Cristofol R. Mandacan

Menanggapi penghargaan kepada enam tenaga pengajar itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari Selatan, Cristofol R. Mandacan menjelaskan bahwa penghargaan yang diberikan merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian yang tinggi dari mereka selama ini.

Penghargaan tersebut juga menurut Mandacan, sebagai motivais termasuk kepada bapak ibu guru lainnya untuk berpacu bersama memajukan dunia pendidikan kedepan.

“Dilihat dari sisi hadiah tadi tidak sebanding dengan apa yang mereka perjuangkan selama ini, sebagai pengabdi yang luar biasa setia dan menciptakan anak bangsa yang ada di gunung dan lembah,”ujar Mandacan.

“Jadi kita memberikan itu untuk memberikan motiviasi bagi bapak ibu guru yang ada di sekolah agar terus ada dalam pelayan pendidikan, agar pendidikan ini terus berkembang.
Bapak ibu guru yang lain untuk mengambil bagian , bahwa mereka juga bisa,”kata Mandacan.

Sementara Paskalis Baronama, salah satu penerima penghargaan kepada awak media menyebutkan penghargaan yang mereka terima adalah sebuah bentuk motivasi.

“Meski mengajar didaerah terpencil kami sangat mencintai pekerjaan kami sebagai seorang pendidik sejuah ini,”ujar Baronama.

Pria kelahiran Adonar 47 tahun silam dan mengawali pekerjaan sebagai guru di distrik Membei 1998 dan mulai mengajar di distrik Tahota tahun 2009 ini
mengakui bahwa meskipun tidak mudah mengabid didaerah terpencil namun berkat kecintaan terhadap pekerjaan sebagai guru sehingga selalu ada cara dan jalan untuk bertahan untuk menyalurkan ilmu kepada anka didik.

“Khususnya kami di daerah daerah terpencil, kami sangat-sangat tergantung kerja sama dengan masyarakat dengan baik, dan juga dengan anak-anak didik sehingga proses belajar mengajar boleh dengan baik berjalan sejauh ini,”ujar Baronma, ceritakan pengelaman pribadi selama jadi guru di Tahota.

“Saya mulai mengajar di Tahota 2009. Awal saya mengajar itu di Membei tahun 1998/1999, Sampia hari ini masih mengabdi di SD 119 Tahota setelah pindah dari Membei. Mengajar rangkap dari kelas 1 sampai 6. Karena kita hanya ada empat guru, sejauh ini sanga aktif. Semunya honor ada tiga, PNS saya sendiri,”tandas Baronama.

Paskalis Baronama guru SDI 119 Tahota

*Minta Bangun Rumbel Baru*

Bertepatan dengan HARDIKNAS, Baronama juga menyampaikan harapnnya yakni ingin ada pembangunan ruangan belajar (Rumbel) baru di sekolah mereka.

“Sama dengan guru – guru lain ya. Harapnya itu kiranya sekolah kami dibuat baru, sudah terlalu parah plafonnya, ada yang patah dan retak. Pelafon di ruang takutnya jatuh saat mengajar,”tukas Baronama.

Terkait harapan pembanguban ruang belajar baru dari Barunama langsung di tanggapi oleh Kepala Dinas Pendidikan, Cristofol R. Mandacan.

“Peroslan fasilitas yang ada itu tidak saja terjadi pada satu sekolah, semua data ada di kita. Semua sekolah keluhkan yang sama. Jadi kita bicara soal pembanguan fisik itu kita harus kembali ke kemampuan keuangan daerah,”jelas Mandacan.

“Dana untuk kita (pendidikan) ini kan sudah dibagi pos sebeser 30 persen untuk pendidikan. Jadi dari 30 persen itu tidak hanya untuk fisik tapi untuk sisi SDM misalkan untuk honorer. Dari dana otsus itu 15 persennya ada di (biayai) Honor Daerah. Sedangkan lainnya kita arahkan ke fisik dan nonfisik,”terang Mandacan lagi.

Sehingga, dengan kondisi keuangan yang terbatas maka pembangunn harus dilakukan secara bertahap.

“Dengan kondisi keuangan yang terbatas jadi tidak semua sekolah dibangun, tapi perlahan. Tapi tetap kita fokus. Saya kedepan pembangunan fisik itu kita tetap fokus, meski tidak serentak. Itu tadi, keuangan kita terbatas,”tandas Mandacan. (REDAKSI)

Related posts
Manokwari SelatanPendidikan

Pemkab Mansel mendukung Pembentukan CDP untuk Urai Persoalan Pendidikan SMA

1 Mins read
PENTUL,MANSEL-Rencana Dinas Pendidikan Papua Barat akan bentuk empat Cabang Dinas Pendidikan (CDP) mendapat Dukungan dari Pemda Manokwari Selatan (Mansel). Diketahui, realisaikan kebijakan…
Manokwari SelatanPendidikan

Upaya Disdik Mansel Menghadap Tuntutan Pendidikan Berbasis Teknologi Ditengah Keterbatasan

1 Mins read
PENTUL,MANSEL-Pendidikan berbasis teknologi dirasa belum maksimal di Manokwari Selatan (Mansel). Padahal, Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbudristek) tengah mengupayakan perbaikan dalam…
Manokwari Selatan

Pelaksanaan UAS Tingkat SD Kabupaten Manokwari Selatan, Ketat Prokes

1 Mins read
PENTUL,MANSEL
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *